Kausa

On Minimalism: Tentang Zen dan Gaya Hidup

esrtetrt

Belakangan istriku menjajal term yang belakangan populer dengan sebutan ‘minimalism’. Pertama kali banget mengenal istilah ini sebenarnya dari buku katalog rumah, salah satunya ada gaya minimalis. Tapi sekarang sepertinya fokus term ini sedang bergeser ke pengertian gaya hidup minimalism, utamanya sejak semakin dipopulerkan oleh Gita Savitri, salah satu youtuber Indonesia. Istriku mulai mengaplikasikan beberapa hal praktis dari lifestyle minimalism, mulai dari mengajak ku ‘menginventarisir’ pakaian sampai hanya benar-benar perlu saja yang tetap disimpan lalu segera disumbangkan. Pun dengan kendali finansial keluarga kecil kita, dia berinisiatif membagi pendapatan kita berdua ke beberapa rekening yang kita punya, misal pengeluaran sehari-hari di satu rekening baik pengeluaran tetap maupun temporer, lalu di akun lain kita simpan untuk jangka panjang, dst.

Saya coba cari lebih dalam soal nature-nya minimalism. Ketika mereka membahas minimalism, saya menangkap beberapa ciri antara lain menghindari belanja konsumtif, mengunakan utilitas sehari hari hanya sesuai kebutuhan, kendali finansial, bahkan pilihan untuk housing keluarga kecil kita, seperti yang istriku bilang via postingan-nya; atau beberapa hal lain menurut Gita yang intinya adalah owning only what we need. Praktek-praktek tersebut mungkin mulai kembali ‘mendapat tempat’ dalam dialektika (atau obrolanlah) anak muda kekinian yang sebagian mulai menyadari bahwa ada kecenderungan show-off berlebihan (entah kunjungan ke tempat-tempat instragam-able atau membeli barang yang sekedar pengen tapi ga butuh-butuh amat), merasa kurang update kalau belum memiliki gadget tertentu, serta hal-hal lain yang sebetulnya tidak substansial untuk survival dan kehidupan sehari-hari.

Karakter minimalism yang meng-advokasi gaya hidup sehat dan kendali diri sendiri (self-control) sebetulnya bukan hal baru. Saya mengenal konsep taking control of own subjectivity melalui agama Islam, yaitu konsep nafsu. Bahwa dalam konsep itu, manusia selalu dalam potensi baik dan buruk, lalu hanya dengan mengendalikan nafsu kencenderungan menjadi baik semakin meningkat. Tapi ya itu, sekedar mengenal. Secara konseptual justru saya mempelajari self-control lebih dalam dari Zen.

Zen sebagai ajaran hidup (the way of life) atau mungkin yang menghidupkannya sebagai religious institution misalnya dengan Zen Buddism mendaraskan pentingnya beberapa virtues (keutamaan) dalam menjalani hidup antara lain kemampuan untuk ‘melihat substansi langsung’ bukan melalui teks-teks doktrinal maupun ajaran seorang master, kemampuan menilai dan mengukur dinamika (untuk hal apapun), dan pentingnya intuisi. Virtues lain dalam Zen tentunya lebih banyak dari itu, mungkin bisa membacanya mulai dari buku ini. Tapi saya mencoba menyuling sendiri dari pemahaman saya akan Zen, hasilnya adalah tiga hal tersebut. Hal ini sekaligus latihan mental mempraktekkan Zen karena pada dasarnya ajaran Zen justru cenderung ‘mengurangi kata-kata’ karena terlalu banyak elaborasi bisa saja malah mengaburkan ajaran Zen itu sendiri terkait kemampuan ‘melihat substansi langsung.’

Sebelum saya bedah tiga virtues tersebut satu per satu, saya coba mengenalkan karakter yang menurut saya unik dari Zen atau orang-orang yang mempraktekkan Zen. Apabila kita telusuri bacaan online terkait Zen maka yang kita temukan sebagian besar bukanlah tentang Four Noble Truth atau the eightfold path, tapi kumpulan narasi personal. Ini menurut saya menarik karena ‘praktisi Zen’ ini memaparkan perjalanannya dalam ‘menemukan diri sendiri’ melalui penemuannya sebagai proses dan bukan tenets (ajaran-ajaran tertulis) Zen. Kesederhanaan hidup yang mereka praktekkan sebagaimana konsep minimalisme kekiniaan semata-mata adalah ‘hasil’ dari proses yang terus berjalan untuk lebih mengenal diri sendiri, membedah mana kebutuhan mana keinginan, menenangkan diri sebelum proses emosional, memberi jarak antara satu kegiatan dengan yang lain, mencari alternatif lalu menemukan kreatifitas yang unik, dll. Semua hal tersebut mengemuka sebagai bagian integral ‘latihan’ Zen itu sendiri. Pun demikian dengan narasi personal mereka, tidak sedikit praktisi Zen justru atheis atau bahkan penganut taat agama tertentu tapi, lagi-lagi, proses dia begitu memulai etika Zen mendapatkan porsi yang menarik dan unik karena begitu personal.

Adapun ketiga virtues tersebut, (1) kemampuan melihat substansi langsung adalah tentang bagaimana manusia tidak ‘membatasi’ diri ketika berinteraksi dengan sekitar baik benda mati maupun sesama manusia. Batasan yang seringkali sudah ditetapkan adalah konsepsi apapun, prasangka, atau asumsi yang melekat terhadap subyek tertentu. Dekatilah secara langsung, pahami dan berinteraksi secara jujur lalu temukan simpulan tanpa pretensi ataupun tekanan yang justru menghalangi dirimu menemukannya secara asli. Zen justru men-sugesti para praktisi untuk ‘mengurangi’ kepahaman konseptual karena ‘ancaman’ kegagalan mencerap keseluruhan ajaran Zen lantaran keterbatasan kata-kata.

Lalu berikutnya (2) kemampuan menilai dinamika. Zen mengajak praktisinya justru embrace pengalaman hidupnya se-otentik mungkin, berinteraksilah dengan jujur dan mengalaminya secara langsung. Bahkan batu yang tergeletak di jalan dapat dipahami sebagai event yang terus berlangsung (misal dengan memahami bahwa atom-atom penyusun batu itu tidak statis tapi justru terus bergolak hanya pada satu titik tertentu menyebabkan benda itu sebagai batu tapi pada titik lain substansi di dalamnya mungkin segera berinteraksi dengan zat lain lalu berubah baik secara fisik maupun kimia menjadi substansi lain) bukan batu sekedar benda mati, ada apresiasi terhadap dinamika.

Keutamaan terakhir (3) yaitu pentingnya intuisi. Menurut saya inilah puncaknya kepahaman seseorang akan Zen. Gaya hidup orang tersebut berubah mendekati gaya hidup sehat secara bertahap, perubahan ketenangan diri, kebaikan akan apresiasi terhadap segala sesuatu secara lebih obyektif, semuanya tercapai secara intuitif. Seolah mengalir saja secara alami. Ajaran Zen mendapat relevansinya melalui praktek-praktek intuitif, jadi bukan saja akumulasi pengetahuan (aspek kognisi) tapi juga kematangan mental dan kemampuan evaluatif yang berjalan bersamaan lalu berakumulasi menjadi intuisi. Maka sejak itu dia menjadi Zen.

image credit: https://www.pinterest.com/pin/65091157086520479/
Standard