Filosofi, Kausa

​Memaknai kembali Idul Fitri

Hari raya umat islam, Idul Fitri, merupakan ‘monumen’ kemenangan yang senantiasa dipancangkan setiap tahun. Monumentasi ini berasal dari deretan ekspresi relijius umat islam sepanjang tahun, untuk kemudian intensitasnya menguat selama Ramadhan. Kita bisa memilih untuk mengisi monumen Idul Fitri sebagai kemegahan yang terbentuk dari akhlak-akhlak mulia atau menyusunnya dengan perilaku yang belum menunjukkan keislaman seseorang, tentu saja tidak semua hal bisa tegas hitam putih, tetapi kita pula bisa menentukan kecenderungan kebaikan sebagai pola yang dominan pada Idul Fitri.

Pola kebaikan dapat terbentuk dari bermacam aksi dan gagasan berbasis keislaman. Setiap kita akan berusaha menafsirkan prinsip-prinsip berislam melalui praktik keseharian dan keyakinan terhadap narasi relijius tertentu. Akan muncul ‘persaingan’ dari setiap penafsiran tersebut, lalu setiap kita mungkin bisa memahami hal tersebut secara berbeda sekalipun berangkat dari niat berkebaikan yang sama. Lalu bagaimana kita memaknai perbedaan tersebut? bagaimana seharusnya kira menyikapi nilai-nilai keislaman yang muncul di permukaan secara berbeda?
Kita mungkin tergoda pada ‘kharisma’ aktor tertentu lalu memutuskan berdiri di belakangnya atau kita memilih mengikuti barisan yang paling banyak orang memenuhi. Keduanya tidak ada yang salah, pun demikian dengan keputusan kita untuk akhirnya berjalan sendirian dengan narasi yang dibangun sendiri melalui teks-teks suci Islam, ajaran-ajaran Imam bijak terdahulu, dan telaah terdapat konteks sosial dan perkembangan zaman.
Kekhawatiran tentang perbedaan tersebut adalah hal lumrah, mengingat kita mungkin tumbuh dan besar melalui komunitas yang begitu lekat satu sama lain. Kehidupan yang nyaris satu frekuensi hampir pada semua aspek, lalu kemudian dihadapkan pada realitas kemajemukan berkelindan dengan konvergensi teknologi yang semakin memudahkan kita ‘bertemu’ secara virtual dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Tantangan berupa perkembangan dan perbedaan tersebut bisa juga dimaknai sebagai peluang. Peluang untuk kembali mengambil langkah mundur atau setidaknya menepi untuk merefleksikan kembali langkah yang sudah dilalui. Kita berkesempatan untuk belajar kembali pada ‘universitas kehidupan’. 
Hanya melalui refleksi kembali terhadap ekspresi keislaman kita, Idul Fitri kali ini menjadi tidak sekedar mengulang ‘event tahunan’ umat Islam. Tapi, semakin kaya dengan peningkatan pemahaman bahwa perbedaan itu nyata, kita bisa sejenak tenang untuk kemudian mengambil sikap yang berasal dari kebijaksanaan. Idul fitri pada dasarnya adalah kembalinya kita sebagai pribadi yang fitri, kesucian pribadi bagi umat Islam tentunya terbentuk dari akhlak mulia. Monumen kesucian dari sepanjang tahun, lalu dilanjutkan dengan ‘level up’ secara intensif selama ramadhan, secara alamiah menggembleng pribadi umat islam untuk terus memantaskan diri untuk surga kelak sebagai pengunjung kemuliaan dari setiap detil kemuliaan yang terus kita usahakan dalam hidup.

Standard
Kausa

International Development: Sebuah Pencarian

oneworld_universal

Istilah ‘international development’ pertama kali saya kenal sedikit lebih mendalam sebagai term dalam satu course konsentrasi kuliah Hukum HAM Internasional di FH UGM. Saat itu kami mempelajari hanya sebagai bagian instrumentasi hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, memasuki wacana international development sebagai perwujudan penting implementasi hak-hak tersebut. Nah, belakangan saya mencoba lebih memahami apa sebetulnya yang mereka bahas ketika menjajal international development, terkait dengan rencana studi lanjut M.Phil atau M.Sc International Development, pun demikian dengan MLaw&Dev dengan sebagagian besar coursework berlatar international development, atau yang terakhir dan memang prioritas karena linier dengan studi S1 dulu yaitu LL.M. dengan fokus isu Poverty, Human Rights and Development.

Sebelum lebih lanjut dengan pembahasan tentang international development, saya pengen coba ulas dulu kenapa international development? Secara pragmatis hal ini memang selaras dengan konsentrasi saya waktu kuliah, yaitu Hukum Internasional yang secara khusus fokus pada hukum HAM internasional. Tapi, sepanjang mempelajari Hukum HAM Internasional saya semakin menyadari bahwa ‘international scene’ itu sebenarnya sangat dekat. Kok bisa? Bisa banget. Yang saya maksud dengan international scene tidak lain adalah berbagai kondisi yang terkait langsung dengan isu-isu internasional yang terus menjadi problem-problem kunci dalam berbagai diskursus internasional. Apa saja? kemiskinan, persoalan kesetaraan, isu lingkungan, dan berbagai pemenuhan HAM lainnya.

Begitu dekatnya isu-isu tersebut karena memang itulah yang sehari-hari menjadi permasalahan di negara-negara developing, salah satunya Indonesia. Saya semakin menyadari bahwa pemajuan HAM yang seringkali secara ‘ringan’ menjadi bagian diskusi dan berbagai tulisan di atas kertas sebetulnya jauh lebih beringas di lapangan. Begitu nahasnya orang-orang yang tercerabut dari hak-hak yang paling mendasar yang memang menjadi tanggungjawab negara untuk memenuhinya. Bayangkan nasib 300-an orang yang tidak menentu selama lebih dari 5 tahun terusir dari tanah kelahiran dan penghidupannya lantaran berbeda keyakinan dengan warga kebanyakan di daerahnya. Saya masih bergetar mengingat semua studi kasus konflik sektarian di Indonesia, betapa sesama manusia pun kita bisa begitu bengis membakar rumah warga, mengusir penduduk dari rumah-rumahnya, bahkan membunuh sampai usus korban terburai. Jauh dari kenyamanan ruang diskusi saya di FH UGM, international development adalah narasi yang sangat nyata dan tak kenal rasa di Indonesia. Saya ingin lebih mendalami dan bisa lebih memberi pengaruh pada international development di Indonesia setidaknya dari ranah saya, yaitu hukum secara khusus hukum HAM internasional.

Ada tiga kata kunci penting untuk memulai wacana international development, yaitu tackling inequality (menangani ketidaksetaraan), alleviating poverty (menanggulangi kemiskinan), dan creating a sustainable environment (mewujudkan lingkungan yang lestari). Secara umum salah satu universitas ternama, menggariskan studi international development sebagai  a rigorous and critical introduction to development as a process of managed and unmanaged change in societies in the global South; intellectual history of development, the paradigm shifts and internal conflicts within the discipline and the contemporary relevance of research to development policy and practice. Jadi, studi international development ini warna-warni secara akademik, siapapun yang menekuni bidang ini haruslah mampu membaca, menafsir, dan mempraktikan solusi berbagai isu-isu international development dengan menggunakan berbagai disiplin dan perspektif.

Kata kunci pertama (1) tackling inequality, yaitu istilah yang merujuk pada spektrum luas isu-isu kesetaraan. Apa saja? menghormati keberagaman, mengutamakan solidaritas dan menjunjung tinggi martabat manusia. Orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang yang ingin menghapuskan diskriminasi dan intoleransi atas dasar agama, suku, suku, warna kulit, jenis kelamin, dan status sosial lainnya, serta meningkatkan solidaritas dengan yang lemah dan menjadi korban. Dilaporkan bahwa selain Indonesia memiliki tingkat ketimpangan yang terburuk keenam di dunia, kekayaan empat orang terkaya di Indonesia adalah sama dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Selanjutnya, besarnya pendapatan tahunan dari kekayaan orang terkaya di Indonesia -cukup untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di Indonesia.

Kedua yaitu (2) alleviating poverty. Beberapa fokus antara lain: menyempurnakan program perlindungan sosial, peningkatan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan yang inklusif. Penanggulangan kemiskinan tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah semata, akan tetapi juga harus melibatkan stakeholders kepentingan strategis seperti pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, termasuk masyarakat miskin. Para pemangku kepentingan tersebut memainkan peran-peran strategis dalam penanggulangan kemiskinan, namun selama ini belum terintegrasi dalam suatu kerjasama yang efektif baik dalam penyusunan kebijakan, pelaksanaan program, maupun kerjasama pelaksanaan program.

Kemudian yang ketiga (3) yaitu creating a sustainable environment. Isu lingkungan menjadi ‘primadona’ ketika beberapa negara influential berkumpul dan menyepakati poin-poin krusial mengenai kesadaran lingkungan yang sebelumnya sangat antroposentris menjadi lebih berkepedulian lingkungan, yaitu pada Rio Conference ’92 atau lebih dikenal sebagai Earth Summit. Indonesia sebagai salah satu negara paru-paru dunia justru terus-menerus mengalami ‘kecolongan’ dalam mengelola lingkungan hidup. Berbagai persoalan kehutanan dan lingkungan hidup masih terus menjadi ‘pekerjaan rumah’ besar bagi Indonesia.

All in all, international development adalah pelangi yang tidak begitu cantik karena dari dalamnya justru kita lebih menyadari bahwa persoalan yang secara istilah tertulis ‘internasional’ justru adalah permasalahan-permasalahan yang sangat dekat. Pilihan saya untuk terus lebih mendalami dan mungkin di suatu saat nanti memegang peran strategis untuk ambil bagian dalam international development merupakan skenario berat, tapi bismillah inilah jalan yang secara personal saya rasakan sangat dekat dan secara intelektual sangat menantang.

image source: https://icelebratediversityblog.com/2013/01/11/free-one-world-poster-the-universal-declaration-of-human-rights/

Standard
Kausa

On Minimalism: Tentang Zen dan Gaya Hidup

esrtetrt

Belakangan istriku menjajal term yang belakangan populer dengan sebutan ‘minimalism’. Pertama kali banget mengenal istilah ini sebenarnya dari buku katalog rumah, salah satunya ada gaya minimalis. Tapi sekarang sepertinya fokus term ini sedang bergeser ke pengertian gaya hidup minimalism, utamanya sejak semakin dipopulerkan oleh Gita Savitri, salah satu youtuber Indonesia. Istriku mulai mengaplikasikan beberapa hal praktis dari lifestyle minimalism, mulai dari mengajak ku ‘menginventarisir’ pakaian sampai hanya benar-benar perlu saja yang tetap disimpan lalu segera disumbangkan. Pun dengan kendali finansial keluarga kecil kita, dia berinisiatif membagi pendapatan kita berdua ke beberapa rekening yang kita punya, misal pengeluaran sehari-hari di satu rekening baik pengeluaran tetap maupun temporer, lalu di akun lain kita simpan untuk jangka panjang, dst.

Saya coba cari lebih dalam soal nature-nya minimalism. Ketika mereka membahas minimalism, saya menangkap beberapa ciri antara lain menghindari belanja konsumtif, mengunakan utilitas sehari hari hanya sesuai kebutuhan, kendali finansial, bahkan pilihan untuk housing keluarga kecil kita, seperti yang istriku bilang via postingan-nya; atau beberapa hal lain menurut Gita yang intinya adalah owning only what we need. Praktek-praktek tersebut mungkin mulai kembali ‘mendapat tempat’ dalam dialektika (atau obrolanlah) anak muda kekinian yang sebagian mulai menyadari bahwa ada kecenderungan show-off berlebihan (entah kunjungan ke tempat-tempat instragam-able atau membeli barang yang sekedar pengen tapi ga butuh-butuh amat), merasa kurang update kalau belum memiliki gadget tertentu, serta hal-hal lain yang sebetulnya tidak substansial untuk survival dan kehidupan sehari-hari.

Karakter minimalism yang meng-advokasi gaya hidup sehat dan kendali diri sendiri (self-control) sebetulnya bukan hal baru. Saya mengenal konsep taking control of own subjectivity melalui agama Islam, yaitu konsep nafsu. Bahwa dalam konsep itu, manusia selalu dalam potensi baik dan buruk, lalu hanya dengan mengendalikan nafsu kencenderungan menjadi baik semakin meningkat. Tapi ya itu, sekedar mengenal. Secara konseptual justru saya mempelajari self-control lebih dalam dari Zen.

Zen sebagai ajaran hidup (the way of life) atau mungkin yang menghidupkannya sebagai religious institution misalnya dengan Zen Buddism mendaraskan pentingnya beberapa virtues (keutamaan) dalam menjalani hidup antara lain kemampuan untuk ‘melihat substansi langsung’ bukan melalui teks-teks doktrinal maupun ajaran seorang master, kemampuan menilai dan mengukur dinamika (untuk hal apapun), dan pentingnya intuisi. Virtues lain dalam Zen tentunya lebih banyak dari itu, mungkin bisa membacanya mulai dari buku ini. Tapi saya mencoba menyuling sendiri dari pemahaman saya akan Zen, hasilnya adalah tiga hal tersebut. Hal ini sekaligus latihan mental mempraktekkan Zen karena pada dasarnya ajaran Zen justru cenderung ‘mengurangi kata-kata’ karena terlalu banyak elaborasi bisa saja malah mengaburkan ajaran Zen itu sendiri terkait kemampuan ‘melihat substansi langsung.’

Sebelum saya bedah tiga virtues tersebut satu per satu, saya coba mengenalkan karakter yang menurut saya unik dari Zen atau orang-orang yang mempraktekkan Zen. Apabila kita telusuri bacaan online terkait Zen maka yang kita temukan sebagian besar bukanlah tentang Four Noble Truth atau the eightfold path, tapi kumpulan narasi personal. Ini menurut saya menarik karena ‘praktisi Zen’ ini memaparkan perjalanannya dalam ‘menemukan diri sendiri’ melalui penemuannya sebagai proses dan bukan tenets (ajaran-ajaran tertulis) Zen. Kesederhanaan hidup yang mereka praktekkan sebagaimana konsep minimalisme kekiniaan semata-mata adalah ‘hasil’ dari proses yang terus berjalan untuk lebih mengenal diri sendiri, membedah mana kebutuhan mana keinginan, menenangkan diri sebelum proses emosional, memberi jarak antara satu kegiatan dengan yang lain, mencari alternatif lalu menemukan kreatifitas yang unik, dll. Semua hal tersebut mengemuka sebagai bagian integral ‘latihan’ Zen itu sendiri. Pun demikian dengan narasi personal mereka, tidak sedikit praktisi Zen justru atheis atau bahkan penganut taat agama tertentu tapi, lagi-lagi, proses dia begitu memulai etika Zen mendapatkan porsi yang menarik dan unik karena begitu personal.

Adapun ketiga virtues tersebut, (1) kemampuan melihat substansi langsung adalah tentang bagaimana manusia tidak ‘membatasi’ diri ketika berinteraksi dengan sekitar baik benda mati maupun sesama manusia. Batasan yang seringkali sudah ditetapkan adalah konsepsi apapun, prasangka, atau asumsi yang melekat terhadap subyek tertentu. Dekatilah secara langsung, pahami dan berinteraksi secara jujur lalu temukan simpulan tanpa pretensi ataupun tekanan yang justru menghalangi dirimu menemukannya secara asli. Zen justru men-sugesti para praktisi untuk ‘mengurangi’ kepahaman konseptual karena ‘ancaman’ kegagalan mencerap keseluruhan ajaran Zen lantaran keterbatasan kata-kata.

Lalu berikutnya (2) kemampuan menilai dinamika. Zen mengajak praktisinya justru embrace pengalaman hidupnya se-otentik mungkin, berinteraksilah dengan jujur dan mengalaminya secara langsung. Bahkan batu yang tergeletak di jalan dapat dipahami sebagai event yang terus berlangsung (misal dengan memahami bahwa atom-atom penyusun batu itu tidak statis tapi justru terus bergolak hanya pada satu titik tertentu menyebabkan benda itu sebagai batu tapi pada titik lain substansi di dalamnya mungkin segera berinteraksi dengan zat lain lalu berubah baik secara fisik maupun kimia menjadi substansi lain) bukan batu sekedar benda mati, ada apresiasi terhadap dinamika.

Keutamaan terakhir (3) yaitu pentingnya intuisi. Menurut saya inilah puncaknya kepahaman seseorang akan Zen. Gaya hidup orang tersebut berubah mendekati gaya hidup sehat secara bertahap, perubahan ketenangan diri, kebaikan akan apresiasi terhadap segala sesuatu secara lebih obyektif, semuanya tercapai secara intuitif. Seolah mengalir saja secara alami. Ajaran Zen mendapat relevansinya melalui praktek-praktek intuitif, jadi bukan saja akumulasi pengetahuan (aspek kognisi) tapi juga kematangan mental dan kemampuan evaluatif yang berjalan bersamaan lalu berakumulasi menjadi intuisi. Maka sejak itu dia menjadi Zen.

image credit: https://www.pinterest.com/pin/65091157086520479/
Standard
Kausa, Uncategorized

Bumi: Here, Take a Sip and Breath

There are changes and dynamics along the amazing process, love. Semantics of which human have reached up to the modern world seem serve little to no effect to the process. There are also philosophers, like say Montaigne, who took the narrative approach to almost any impactful events in life,  at that time as a gentlemen. Of course, you can say he was contained in his time, culture, and say the whole system was different. But, there’s this thing of which transcend time, feeling and the emotional surge that any human can share. Montaigne believed to reassessment, as we’ve understood nowadays like introspection, to inner values in respect of unexpected event or surge of feeling or new territory to his social network. As a note, he was a philosopher who were so keen to undertake details of intellectual endeavour, social stances in real world, and of course his feelings. 

There is no limit to deeply felt emotions, as it grip the soul each time human experience the moment.  Everything runs simultaneously as if it creates continuum of its own. Human surrender to feeling, as it constitutes the very essence of humanity. This writ advocates the meaning of emotion as determining element in almost anything in daily life. In the ever-busy modern living, our relevance to feeling have been drown by routines and objectives that we’ve thought will provide enough satisfaction, that we’ve believed firmly it will guarantee the life we live will prosper and proper. As a matter of fact  it is not, a fraction of it yes, but not all. We are in a huge debt of feeling, everyone deserve a sip of happiness and breath out of it.

Well, about the sip of happiness. There are, of course, wide range of possibilities. One might define reciprocal attitude will suffice, one might see more on the satisfaction from the said performance, or simply like a busines process: a transaction. Only way to make sure which is which is by trial and error, experience it, and if one bump onto new challenges, please be sure to be wise to assess the situation as it might need delicate series of action.

Amidst surefire surge of feeling,

Bumi Ad-driyarkara

Standard
Kausa

Bumi: Tumbuh dari Menulis

Hai Anisa,
Saya bertahan di tempat ini, Universitas tempat kita bersama belajar tentang kemanusian dan kebersamaan, sementara waktu sebelum akhirnya ‘merayakan’ kelulusan ini dengan karya-karya di daerah penempatan nanti. Anisa, Aku ingin tumbuh dan terus berkembang dari dunia kepenulisan, se-tidak nyaman apapun keadaannya di tempat mengabdi nanti. Dari menulis ini aku sedikit demi sedikit terus belajar, semuanya termasuk kewajiban membaca. Hanya dengan memproses bacaan yang baik kita bisa menghasilkan tulisan yang baik pula.
Well, buat aku menulis ini memecah kebuntuan juga. Tentu banyak yang berseliweran di kepala, mulai dari yang tidak penting sampai pikiran sampah sama sekali. Anisa, aku ingin terus tumbuh dengan menulis. Kedewasaan kita tidak diukur dengan seberapa tinggi badan kita atau seberapa tua usia kita, tapi semata-mata dari cara kita memproses masalah. Nah, menulis memaksa kita berfikir runut, sistematis, atau malah acak sama sekali tapi jelas memiliki goal yang terukur. Tentu harapan akhirnya aku terus dalam budaya berfikir sebagaimana proses menulis.
Nanti aku sambung lagi, Anisa.

Standard
Kausa

Anisa: The Dulling Routine

Hi Bumi,

Its been a while since the last time I wrote to you, things were happening so fast with so little to prepare. Well, now I’m gonna write about the routine that people have been doing, I know this might potentially be so generalizing on many levels but trust me its fine, I’m gonna write it anyway. Bumi, writing about routine is writing about daily activities which include every little things we need to do in order to fulfill the daily quota.

Be alarmed that there are many points actually I’d like to write about in this issue of routine, but in this post I will only write the first three ideas that come up to my mind. First, routine as part of life in general. Second, I’d like to view types of routine. Third, the dulling routine. Routine’s role in daily life placed as the main activity, when you are a student then the school schedule is your routine, your main activity, when you are a worker then your working hours are the routine.

As main part of life in general, routine shapes you. Routine is and will always be interacting with your capabilities to respond and act with everyday challenges. Routine is inevitable. The second point is types of routine, at the stage of routine becomes you, it is really important the identify properly what kind of routine you’d like to do. Understanding routine becomes imperative. There are many kinds of routine of course, the work, school, organisation, and other things. But the way we see it will eventually set the tone of the routine that we are doing.

The last point, the dulling routine. Routine can be dull. A bright person can be dimmed by his crippled understanding about his/her routine. Place the routine as set of objectives which drive you to be progressive. Routine on its own is a repeated activities in daily life, so be wise to perceive it. Bumi, there are many things to encounter in your life, so be careful as to not hurt it as dulling activities.

Standard
Kausa

Anisa: Menulis apa, Bum?

Aku tak pernah gagal menikmati kesendirian, pernah aku kabur dari kumpul-kumpul anak-anak satu angkatan atau lari dari penatnya perayaan kelulusan. Dari menjadi sendiri aku melihat diriku sendiri dan matriks kehidupan seperti terpampang jelas di hadapan mataku. Jelas ini tidak ada urusannya dengan aku yang selalu bisa menjajal sore mendongeng di depan anak-anak nelayan, menikmati kesendirian itu bukan berarti tidak bisa berbagi. Sedang berbagi tidak perlu terdeteksi. Aku bersama kawan-kawan sosmas juga baik-baik saja, hanya saja menyendiri menawarkan lingkup kontemplatif yang lebih luas.
Kompromi dan penyesuaian. Aku terbiasa dengan mengamati pola lalu meniti langkahku menuju target sesuai titik-titik yang menurutku terbaik, tapi dengan bersama orang-orang itu aku selalu gagal karena perlu penyesuaian. Aku menemukan diriku ketika dengan Bumi, tapi iya dia pun seperti melintang jauh dalam pemikiran. Tak apa, lawan dalam pemikiran adalah kawan terbaik. Bumi masih sahabatku juga, tapi menyendiri juga aku temukan menyenangkan.
Bumi tiba-tiba mengirim SMS, “Menulis apa, nis?”
Aku terdera gagap, padahal cuma SMS. Tapi iya, mungkin karena tebakan Bumi benar, aku sedang menulis. Aku merutuki diri dalam tulisan tanpa arah. Aku biarkan jejariku menjelajah tuts demi tuts merangkai ide. Aku banyak membaca, tapi merasa sangat sedikit menulis. Rasanya, seperti aku sedang membatalkan diri sendiri. Oh, hampir lupa, segera aku balas, “Iya, Bum! tepat sekali Saudara Ghazali Bumi menebak kegiatan hamba. Apa pasal?”
Aku yakin Bumi menyambut gaya bahasa menyebalkan seperti itu, dia pasti bahagia. Simpul senyum mesti langsung menyudut seraya mengetik balasan. Aku tahu Bumi, tak benar-benar tahu. Hanya sekedar melihat dia, lalu beberapa kali berdiskusi. Kami seperti saling menyelami diri kami masing-masing melalui interaksi kami yang selalu absurd.
Dia selalu gagal mengerti kalau aku sedang kambuh ingin sendiri, seperti sekarang. Kan dia sudah hapal kalau aku sedang sendiri bahkan sudah tahu kalau aku sudah begini pasti sedang menulis. Tapi, fakta bahwa dia mengirimkan juga SMS itu sama artinya dia sedang mengkhianati pengetahuannya. Bumi menjegal dirinya untuk menghormati singgasana kesendirian, tapi aku juga gagal untuk mengagungkan kesendirianku. Aku juga membalas SMS-nya.
Aku meracau terlampau banyak, mungkin blog ini akan semakin menumpuk sampah-sampah kata tak bermakna. Tapi, apa iya tak bermakna? bagaimana dengan aphorisma bahwa setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri?
Bumi yang bilang begitu, aku tak harus percaya. Anak fakultas hukum seperti dia hanya mengerti pasal, apalah dakwahnya soal tulisan itu. Tapi aku mau percaya itu, kalau tidak buat apa aku menulis ini. Sudah cukup panjang lagi. Iya, lumayan panjang. Ini malam yang tidak begitu dingin, awan sepertinya tidak begitu semangat berkumpul mengawang di atas. Malam ini langit bersih, langsung terlihat gugusan benda langit di atap angkasa.
Kembali soal tulisan, biasanya tulisanku mengikuti gaya dari buku yang aku pegang dalam seminggu terakhir. Tapi apa? Aku mahasiswa sejarah tapi dua minggu terakhir aku malah selingkuh dengan matematika. Entah kenapa, materi matematika dasar modal ujian masuk perguruan tinggi dulu. Aku paham betul diriku mesti sedang kehabisan cara menendang waktu, tapi iya tenggelam dalam hitungan juga bukan kesalahan. Siapa yang mau menyalahkan? pokoknya aku mau terus menghitung. Tapi, efeknya menjadi mengagalkan teoriku sendiri soal ‘sesuai buku yang aku pegang seminggu terakhir’, iya sepertinya begitu. Kalau iya sepertinya begitu harusnya logikaku sudah runtut dan tulisanku menjadi terstruktur. Ternyata lebih mirip tulisan acak yang terus melawan dua sampai sepuluh kalimat sebelumnya.
Hai, Bumi. Kadang kesendirian membutuhkan subjek lain untuk kawan imajiku, hari ini aku pinjam kamu ya? tidak apa kan? toh kamu juga masih belum membalas pesan pendekku. Kenapa kamu? biasanya cepat jemarimu membalas pesan-pesanku? Mari lanjut menulis, aku ingin menjamah soal kemanusiaan, soal berkebun, juga dunia seputar konstelasi langit.
Tapi jelas keinginanku itu mustahil, masa iya menulis semua itu di sini. Sekarang? Jelas absurd, iya kan Bumi? Paling-paling aku akan menulis tentang tulisan. Tulisan itu apa sih? Bumi tidakkah kau ingin ikut menjawab ini? Kamu pasti langsung bersemangat untuk segera mulai menjawab, hampir pasti pula jawabanmu akan diawali dengan, “Kamu mau mulai dari perspektif mana, nis? Kalau kau seorang yang relijius jawabnya beda, gitu juga kalau kamu sebagai mahasiswa sejarah seperti sekarang? Kamu juga bisa melihat jawaban itu dari pandanganku”
Kamu akan berbusa duluan, bum. Belum memulai jawab, tapi kamu sudah duluan menyerbu ruang pertukaran ide. Kamu rakus. Aku tidak, bum. Perlahan saja kita mulai dari perlunnya menulis, misal?
“Apa pasal? saya liat kamu dari luar kok? hahah coba melongok ke bawah. Lihat pria yang bertapa dengan buku kecil di tangannya?”
Bumi bumi, aku melihat kamu penuh kejutan, sudah mengagalkan agenda menyendiriku juga rencana menulisku. Dia masih ingin mencuri waktuku, mana bisa aku menolak kalau dia sudah datang begitu? Aku tahu dia bawa puding susu itu, itu yang jelas tidak bisa aku tolak. Aku juga tahu dia akan membawa cerita-cerita penjelajahannya yang paling baru, belakangan dia bukan hanya ‘bertapa’ dengan buku-bukunya. Dia memperbaiki fisiknya, awalnya dengan berlari sekenanya. Bumi juga terlihat mendownload beberapa video cardio yang optimal untuk sekedar menyegarkan tubuhnya yang lama tidak berolahraga.”sesuai dengan kaidahnya,” dia bangga. Itu tiga bulan lalu, sekarang tubuhnya liat, mukanya juga semakin gelap. Petualangan dia dari tempat satu ke tempat lain, terus berganti narasi dari setiap orang yang ditemui dalam perjalanannya. Aku menikmati setiap cerita itu, aku gagal menyendiri aku temani Bumi dulu.
Ok, aku berhenti menulis.
Salam.

Anisa Driyarkara

Standard