Filosofi, Kausa

​Memaknai kembali Idul Fitri

Hari raya umat islam, Idul Fitri, merupakan ‘monumen’ kemenangan yang senantiasa dipancangkan setiap tahun. Monumentasi ini berasal dari deretan ekspresi relijius umat islam sepanjang tahun, untuk kemudian intensitasnya menguat selama Ramadhan. Kita bisa memilih untuk mengisi monumen Idul Fitri sebagai kemegahan yang terbentuk dari akhlak-akhlak mulia atau menyusunnya dengan perilaku yang belum menunjukkan keislaman seseorang, tentu saja tidak semua hal bisa tegas hitam putih, tetapi kita pula bisa menentukan kecenderungan kebaikan sebagai pola yang dominan pada Idul Fitri.

Pola kebaikan dapat terbentuk dari bermacam aksi dan gagasan berbasis keislaman. Setiap kita akan berusaha menafsirkan prinsip-prinsip berislam melalui praktik keseharian dan keyakinan terhadap narasi relijius tertentu. Akan muncul ‘persaingan’ dari setiap penafsiran tersebut, lalu setiap kita mungkin bisa memahami hal tersebut secara berbeda sekalipun berangkat dari niat berkebaikan yang sama. Lalu bagaimana kita memaknai perbedaan tersebut? bagaimana seharusnya kira menyikapi nilai-nilai keislaman yang muncul di permukaan secara berbeda?
Kita mungkin tergoda pada ‘kharisma’ aktor tertentu lalu memutuskan berdiri di belakangnya atau kita memilih mengikuti barisan yang paling banyak orang memenuhi. Keduanya tidak ada yang salah, pun demikian dengan keputusan kita untuk akhirnya berjalan sendirian dengan narasi yang dibangun sendiri melalui teks-teks suci Islam, ajaran-ajaran Imam bijak terdahulu, dan telaah terdapat konteks sosial dan perkembangan zaman.
Kekhawatiran tentang perbedaan tersebut adalah hal lumrah, mengingat kita mungkin tumbuh dan besar melalui komunitas yang begitu lekat satu sama lain. Kehidupan yang nyaris satu frekuensi hampir pada semua aspek, lalu kemudian dihadapkan pada realitas kemajemukan berkelindan dengan konvergensi teknologi yang semakin memudahkan kita ‘bertemu’ secara virtual dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Tantangan berupa perkembangan dan perbedaan tersebut bisa juga dimaknai sebagai peluang. Peluang untuk kembali mengambil langkah mundur atau setidaknya menepi untuk merefleksikan kembali langkah yang sudah dilalui. Kita berkesempatan untuk belajar kembali pada ‘universitas kehidupan’. 
Hanya melalui refleksi kembali terhadap ekspresi keislaman kita, Idul Fitri kali ini menjadi tidak sekedar mengulang ‘event tahunan’ umat Islam. Tapi, semakin kaya dengan peningkatan pemahaman bahwa perbedaan itu nyata, kita bisa sejenak tenang untuk kemudian mengambil sikap yang berasal dari kebijaksanaan. Idul fitri pada dasarnya adalah kembalinya kita sebagai pribadi yang fitri, kesucian pribadi bagi umat Islam tentunya terbentuk dari akhlak mulia. Monumen kesucian dari sepanjang tahun, lalu dilanjutkan dengan ‘level up’ secara intensif selama ramadhan, secara alamiah menggembleng pribadi umat islam untuk terus memantaskan diri untuk surga kelak sebagai pengunjung kemuliaan dari setiap detil kemuliaan yang terus kita usahakan dalam hidup.

Advertisements
Standard
Filosofi

Bumi: Menjaga Pesimisme Gerakan

Hai Anisa, tulisan ini untukmu.
Saya tahu senyummu tak pernah lepas ketika turun bersama kawan-kawan sosmas BEM yang selalu kamu banggakan. Saya juga belakangan mengetahui bahwa itu semua bukan tanpa perjuangan. Kamu melakukan semua rincian kegiatan dengan modal semangat dengan dana terbatas. Kamu bertandang ke rumah satu tokoh ke tokoh lain berharap donasi, tak jarang pula turun langsung ke desk proposal perusahaan-perusahaan. Kamu seperti menantang langit, menghela nafasmu untuk setiap langkah yang menurutmu adalah kebaikan. Bisa-bisanya mengawali dan mengakhirinya dengan senyuman, itu mengerikan.
Gerakan yang saya pegang bersama lebih dari satu kompi SDM sebenarnya juga naik turun, tapi kami didukung oleh berbagai lembaga yang simpati pada antikorupsi. Kami besar karena gerakan yang kami bawa searah dengan angin yang menyertai. Kami hidup dari setiap kepedulian yang sedang memuncak popularitasnya. Tapi kamu tidak, nis. Kamu menantang langit.
Melalui tulisan ini saya kirimkan ajakan untuk menjadi pesimis dalam gerakan kita masing-masing. Khususnya kamu. Tenang, baik pesimis maupun optimis berdiri di atas panggung yang sama: bertahan hidup. Secara statistik keduanya imbang dalam pencapaian tujuan masing-masing. Tapi menjadi pesimis punya ciri uniknya sendiri. Saya ingin kamu tahu ciri ini, nis.
“Human consciousness is a tragic misstep of evolution”. Saya ambil itu dari serial singkat True Detective. Kampret itu serial, ceritanya panjang tapi berhasil terus membuat penasaran di setiap episodenya. Tidak penting. Mari lanjut. Poin dari quote itu tentu membuat kita tidak punya alasan untuk bangun setiap paginya. Untuk apa?
Tapi, kita punya cara untuk setidaknya mengerti bahwa kegagalan kita untuk menjegal kesadaran dalam arus besar evolusi mengharuskan kita memahami haluan harapan dan kenyataan. Sebuah haluan yang satu tapi terlihat selalu bertentangan.
Apa sebenarnya harapan? Itu fiksi, nis. Kita akan mengerti bahwa hajat tertentu bisa terlaksana hanya dengan perencanaan yang matang dan kondisi yang memungkinkan. Jadilah pesimis karena itu membantu membentengi mental kita dalam setiap kondisi terburuk. Kita tidak terbawa jargon besar ala propaganda dalam gerakan kita, kita meniti langkah dari semua titik yang memang masih mungkin. Selebihnya adalah upaya-upaya selebrasi atau setidaknya menghibur diri, dalam kesempatan lain upaya ini bisa menjadi pertunjukan menarik bagi calon donatur yang tidak pernah benar-benar menjadi penyandang dana. Tapi testimoni kecil para tokoh besar itu, mampu mengangkat gerakan dari sisi tak terduga, sebuah pintu tersendiri: public relations. Dari pintu itu semua cabang neraka dibuka untuk membiarkan angin surga bertiup. Dari pintu itu kita menunjukkan kemanusiaan, keberhasilan, kepedulian, kebersamaan, dan semua pernak-pernik yang mendukung tampilan publik terbaik. Jadilah pesimis, kita tidak menantang langit. Langit yang kita kangkangi, nis.
Saya tahu kalau kamu benar-benar mengikuti pendapat dalam tulisan ini, saya akan kehilangan simpul kecil dari sudut bibirmu. Sebuah senyuman untuk harapan yang dibawa setiap kebaikanmu. Tapi, itu sekali-kali adalah pernik, nis. Kamu yang saya tahu menghormati substansi ketimbang tampilan. Kamu menggeser posisi nyamanmu bersama anak-anak nelayan itu, kamu bisa tetap senyum dalam dongengmu. Mainkanlah peranananmu seperti sedia kala, tapi dengan dasar pesimisme yang kokoh. Kamu terlindung dari kegagalan-kegagalan kecil di sekitar, alarm kamu akan lebih kencang berbunyi. Kamu aman, nis. Jadilah pesimis.

Sahabatmu,
Ghazali Bumi

Standard
Filosofi

Bumi: Absurditas semangat

Saya sering menggunakan kata ‘absurd’ sekedar menunjukan adanya kegagalan satu titik dan titik lain beserta ribuan atau kosong sama sekali pola lain untuk membentuk pola yang tertentu. Tapi, pada saat lain saya menggunakan kata ini untuk mengejek kawan-kawan terdekat. “Liat mukanya absurd begitu,” biasanya diiringi tawa jahat dengan rasa kecewa sejam kemudian ketika kopi di cangkir sudah menipis. Saya mencintai absurditas, setidaknya dari situ saya menemukan bentuk sementara menuju terbaik. Entah mungkin juga itu hanya justifikasi saja soal ketidakmampuanku mewujudkan apa yang benar-benar dicita-citakan.
Tapi kemudian saya juga menemukan kata ini: semangat. Awalnya saya melihat kata ini sebagai bagian tak terpisah acara-acara olahraga di tivi. “Semangat Kontingen Indonesia kian membara,” begitu juga tertulis di headline media lokal esoknya. Tapi kemudian saya semakin dekat dengan kata semangat ketika mengenal Anisa, dia seperti mesin semangat yang lepas kendali. Binar matanya tak pernah lepas dari berbagai kegiatannya, saya melihat sahabat saya yang satu ini sebagai bentuk ‘semangat’ kalau berwujud manusia. Bukan hanya itu, dia juga sering meninggalkan kata semangat di akhir SMS-nya. “Semangat untuk besok, Bum!,” ah Anisa gumpalan semangat yang tak pernah lelah tularkan pendarnya.
Maka sampailah saya pada titik ini: absurditas semangat. Apa jadinya? tidak ada apa-apa sebenarnya. Hanya saja saya menemukan keduanya jadi seolah seirama mengingat bagaimana semangat menggelayuti kepala ini pada suatu waktu, dan menyusut tak kira-kira di waktu lainnya. Maka iya, absurd semangat ini. Saya gagal menjadi Anisa dalam menikmati semangat. Kalau ada api di mata ku pasti itu langsung padam. Hai Anisa, bukannya kamu mau mengajari saya memakai semangat ini? apa saya selama ini terbalik memakainya?
Tapi, hari ini berbeda. Saya menemukan kembali semangat kembali, bukan dari senyummu kali ini, nis. Tapi dari barisan tulisan setengah jadi para penyusun naskah Deklarasi Akaren. Saya gagal menemukan kebaikan dari tumpukan tulisan-tulisan yang gagal diadopsi menjadi naskah deklarasi itu, tapi saya berhasil mengutip seberkas semangat. Entah kenapa, semangat muncul secara tak terkendali. Saya kembali menikmati membaca potongan-potongan Undang-Undangan untuk tugas akhir saya, lalu kembali menjajal tulisan-tulisan baru yang membutuhkan bahan-bahan berat dari berbagai sumber.
Ah semangat itu absurd, harusnya saya tak sendiri. Saya belakangan mencoba kabur dengan mencoba berlari lebih jauh dari yang dibutuhkan, lebih kencang dari yang saya mampu. Sedikit demi sedikit memperbaiki fisik, lalu jalan-jalan. Ke mana saja, asal belum pernah. Akaren itu luas, dua benua luasnya. Masa iya saya hanya menjelajah yang ada kampus tempat saya belajar saja. Tiga bulan berlalu, saya berkunjung ke tempat Anisa.
Hai Anisa, saya datang bersama puding susu ini. Saya akan mengakhiri tulisan ini, salam semangat!

Ghazali Bumi

Standard
Filosofi

Sense of Process

As a apart of the inner work in the moving giant company, you know one thing: everything moves. Each part fills every listed kind of works. There are various meticulous works as much as simple kind of redundant jobs but still necessary as an integral part. Details are already broke-down by the managers, now those supervisors only need to get things controlled. The actuators have to get things work as it supposed to be. Imagine a giant cloud of machinery, things are tangled.
These things feel like a new universe from theoretical point of view. As a theoretician as long as things fit into certain condition then done, theorized. Even though the theoretician understand every part of works and instruments, there is nothing more real than sense of process. There is a whole new business when theoretician finally down to subjected field. Careful walk-trough and new monitor, only way to comprehend the real stake in the field. Thus, the future be knitted properly only by creative and through crafter~

Standard
Filosofi

I am an Antihero

Being an individual in the middle of transition periode can trigger deconstruction of almost everything he/she thought is final. There are limitless possibilities ahead, yet evaluation of current condition also brings devastating and optimistic bet.
Absurdity of knowing nothing about the ‘correct’ path will also help to re-assess every little inch of potentials, it will also gather emotial breakdown or even an euphoria. Hi future will you please be kind and wait for me? NO
I’ll challenge everything then, even the norms I hold dear. Even most fearsome feeling of being dejected, bereft, and stuck in oblivion. Notes are important to keep everything in check.
Today, I checked this.

Standard
Filosofi

How does feeling actually work?

I studied philosophy of mind called phenomenology. There are myriads of philosophers postulated, argued, dissented against each other. Surely, none of them seek to falsify other theories, they simply yearn for better explanation over simple yet complicated matter: feeling, mind, and perception. How do we, people, actually perceive the reality? How can we justify our minds actually work the way we want? What is feeling anyway? Things are tangled. There is no simple answer to the whole universe of minds.
But, I like that.
It means humanity will always progress to the same harmony, a harmony towards understanding one another. Then a simple word uttered as a universal temporary word to refer being natural adhere to human’s feeling: love. Then history starts, technology advances, people forms civilizations, and the world is officially alive!

Standard
Filosofi

Anisa dan Bumi: Selamat Ulang Tahun, Marx!

Pengantar Serial Anisa dan Bumi

Anisa Driyarkara (Amukti 09, Ilmu Sejarah) dan Ghazali Bumi (Amukti 08, Ilmu Hukum) mencoba mendekati topik-topik ajaib keseharian sampai ribet dalam keilmuan dengan obrolan yang sederhana ala angkringan.

Anisa dan Bumi hidup di Era Pasca Revolusi Putih, mereka tinggal di wilayah yang termasuk berkembang sangat pesat di pusat Pemerintahan Established Order of Akaren. Hidup secara terpisah sejak lulus pendidikan dasar mereka bertemu kembali di kampus pusat Akaren, Universitas Amukti. Anisa menggeluti ilmu sejarah, dia tidak pernah berhenti terpesona oleh kebaruan dan relevansi sejarah dalam setiap episode hidup manusia. Sedang Bumi menikmati Ilmu Hukum, Bumi punya keyakinan unik bahwa hanya dengan hukum yang kuat rekayasa sosial menuju cita-cita konstitusional Established Order of Akaren dapat terwujud.

Mereka seringkali bertemu dan berpisah dalam satu kesempatan, Anisa menemui Bumi langsung ke Angkringan biasa mereka ngobrol, di saat yang sama Bumi ‘berpisah’ karena gagal sepakat dengan argumentasi Anisa yang menurutnya kelewat offside. Bumi tertarik dengan Anisa yang selalu bersemangat menyajikan argumentasinya untuk bermacam topik. Anisa senang bereksperimen dengan ide-idenya, menurutnya cara terbaik adalah dengan ngobrol santai dengan Bumi, mungkin sambil sesekali menghabiskan susu jahe dari gelas yang Bumi pegang.

———————————————-

Pagi ini Anisa terpesona dengan karya-karya Proust, melenceng dari bacaan utamanya yang biasanya hampir pasti berkaitan dengan sejarah. Awal ketertarikan Anisa pada Proust sebenarnya dari sisi sejarahnya, ada keindahan kecil dari sejarah sastra Perancis yang beberapa bulan lalu dia coba jajal. Belum lama ini juga Anisa mencoba menghabiskan tiga volume novel “IQ84” rekomendasi Bumi. Judulnya menarik, Anisa jadi ingat karya klasik George Orwell, berjudul “1984”. Berbeda dengan “1984” yang berkisah fantasi negeri distopia yang hidup dibawah kendali total sang Big Brother sebagai Diktator.
Dari novel “IQ84” Anisa justru semakin penasaran dengan Proust, salah satu tokoh dalam novel itu merekomendasikan karya Proust yang dia nilai sangat bagus untuk menghabiskan waktu. Memang benar, begitu Anisa coba cari tahu tentang karya legendari Proust yang berjudul “Remembrance of Things Past” ternyata terdiri dari enam jilid, masing-masing jilid minimal setebal 700 halaman. Total halaman novel Marcel Proust itu mencapai 4211 halaman, mengerikan.
Sudah hampir jam 1 siang, Anisa harus kembali ke kampus. Menutup karya Proust, Anisa bergegas mengayuh sepedanya. Sepanjang jalan berkelabatan bagaimana kehidupan pada masa itu, awal revolusi Industri. Mesin-mesin mulai menggantikan peran manusia, orang-orang semata-mata hanya dipandang dari sisi fungsional dalam industri. Apreasiasi terhadap keutuhan manusia tentu mengalami kemunduran, Anisa menutup mata pelan kemudian segera membukanya lalu mengayuh lebih keras lagi.
Bumi masih di workshop perkayuannya, jelas ini merupakan salah satu kegiatan Bumi yang paling tidak terencana. Belajar memotong kayu dengan gergaji, mulai dari manual sampai yang listrik. Merancang desain perabotan, dari kursi sampai lemari, lalu membuatnya satu persatu dengan peralatan yang tersedia. Semuanya berawal dari lamunan kecil Bumi, tersentak ketika mulai bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali melakukan sesuatu untuk pertama kalinya?
Tekun Bumi menandai setiap titik kayu yang harus dipotongnya, dia goreskan pensil kayunya ke ujung penggaris di atas kayu. Bumi menyusun satu persatu potongan kayu, lalu mulai dia bentuk sesuai rancangan. Bumi menikmati setiap detil kreasinya, dia merasakan bahwa dalam berkarya ada keterlibatan penuh antara pembuat dan hasil buatannya.
“Hai Bumi!,” Anisa menyisakan teriakkanya ketika lewat belokan persis di depan workshop Bumi. “Jangan lupa sore ini, pantai kampus dekat puing lumbung!”
Bumi meresponnya dengan mengangkat gergaji, menggoyangkannya tangannya sedikit menyunggingkan senyum.
Sambil menunggu sore, Bumi mulai bersiap membersihkan diri, ganti pakaian lanjut pulang ke kost. Bumi mulai menyalakan GPS di smartphone-nya. Bumi mencoba jalan kaki dari workshop ke kost lalu ke kampus, baru ke pantai. Dia usahakan untuk selalu mencari rute baru, tambahan kebiasaan kecil untuk olahraga sederhana dan mencoba sesuatu yang baru.
Dua hari sebelumnya Bumi sudah menyiapkan bingkisan kecil untuk sore ini, dia hampir yakin tentang topik diskusi sore ini bareng Anisa. Bumi membelikan buku saku berjudul “Selamat Ulang Tahun, Marx: Sebuah Kumpulan Cerita Pendek”, kumpulan tulisan anak-anak buruh pabrik dan buruh tani yang menceritakan kehidupan sehari-hari mereka. Sebuah buku dari sudut pandang orang pertama yang mengalami keseharian hidup dalam kungkungan tekanan pekerjaan dan terbatasnya kesempatan waktu bersama keluarga. Mungkin bisa salah tebak, tapi Bumi semakin yakin ketika salah satu teman Anisa di departemen Sosmas BEM mengkonfirmasi kunjungan ke asrama buruh , serta kegiatan Anisa yang sibuk mendongeng dan mengajar anak-anak nelayan dalam seminggu terakhir. Rutinitas pekerja dan suasana rumah nelayan hampir bisa dipastikan mengunci hati Anisa pada satu fokus: adilkah?
“Oi Bum,” sapa Anisa sambil melempar bungkus kertas berisi roti panas yang dia beli di jalan. Sigap Bumi menangkap, kebetulan sedang lapar juga. Bergantian menawarkan, Bumi menggeser tumbler-nya ke meja tempat Anisa duduk. Sepertinya Bumi masih ingat kebiasaan konyol Anisa, sering bersepeda jarak jauh tapi selalu meninggalkan botol minumnya.
“Oya, ini satu lagi,” Bumi merogoh tasnya, mengambil bingkisan sebesar kamus saku yang sebelumnya sudah dia siapkan. Melebar mata Anisa ketika membukanya, tertawa kecil sambil semangat segera membuka halaman daftar isi dari buku kecil itu. Satu lagi kebiasaan kecil Anisa, menurutnya jantung buku ada di daftar isi. Maka ketika membuka buku halaman pertama harusnya bukan cover tapi daftar isi!
“Kamu berhasil mengganti roti kecil itu dengan buku kecil ajaib ini, Bum. Makasih banget,” tutur Anisa, matanya masih berkilatan baris-baris kecil buku saku pemberian Bumi.

***
Angin pantai terus berhembus, meninggalkan dingin sebentar lalu kembali berhembus. Bumi mengambil posisi tidur di atas pasir pantai, Anisa masih bersila di atas meja, mereka terus berbagi cerita dan diskusi. “Pernah kamu bayangin ga nis, masyarakat tidak terbagi dalam kelas-kelas, dan iya eksistensi uang juga tidak ada. Semua warga bekerja sesuai kemampuan dan mengelola juga menikmati hasil sesuai kebutuhan”
“Terus buat apa Akaren ada? pengalaman Revolusi Putih sudah menghilangkan sebagian besar warisan peradaban, kita semua sedang bergerak untuk mengisi itu Bum”
“Bukan gitu, keberadaan Akaren seolah hanya menegaskan kekuasaan sebagian kecil elit pemerintah yang menguasai bisnis dan kekuatan militer, dan lagi Establishment of Akaren dipimpin seorang Chief Executive, udah kaya perusahaan. Saya yakin dalam kamu banyak bisa temukan dalam sejarah bahwa pemerintahan pada masa lampau berbasis Negara dipimpin seorang Presiden sebagai kepala Negara dan Kepala Pemerintahan”
“Gini Bum, establishment hadir bukan karena apapun selain menjalankan fungsi tata kelola di level pusat agar kelumpuhan total pasca Revolusi Putih bisa segera pulih. Semua ini aku kira dalam masih dalam keadaan darurat mungkin sampai setengah abad lagi sampai kita berhenti memusingkan perbedaan-perbedaan kecil dan masing-masing saling menguatkan buat Akaren, buat kita”
“Kamu tarik ke arah emosional sih, coba lihat Akaren dalam penyelenggaraannya. Struktur maupun tata kelolanya berbasis efisiensi dari unit-unit kerja, establishment udah ga keliatan bedanya dengan korporat pada periode kekuasaan multi national company. Kita ga pernah lupa itu karena bentukan Negara sebagaimana pasca Wesphalia mulai punah, perannya habis digantikan multikorporat di hampir semua bidang”
“Aku ngeliat kalau Negara memang konsep usang, orang-orang pasca perang dunia ke-11 mulai membentuk kembali peradabannya dari proses panjang hingga Akaren berdiri. Akaren itu bentukan strategis karena kita hidup di masa evolusi terakhir dari Negara, Bum. Kitalah peradaban itu”
The march of history, inget frase itu, nis?”
The Communist Manifesto, Si Karl Marx?”
“Iya, hayalan dia sederhana: masyarakat tidak terbagi dalam kelas-kelas, dan iya eksistensi uang juga tidak ada. Kita bekerja sesuai kapasitas dan mengambil sesuai kebutuhan. Cantik ga sih, nis?”
“Orang kan harusnya berburu di pagi hari, memancing di siang hari, beternak selepas ashar, dan jadi kritikus film waktu makan malem? Kurang oke darimana lagi coba, nis?”

Anisa turun dari meja, mengambil jaket Bumi kemudian dia pakai sekenanya lalu duduk sambil memeluk lututnya. Sambil menatap mentari yang kian tenggelam Anisa melanjutkan diskusi.
“Ghazali Bumi, mari kita berdiskusi layaknya orang yang tidak sedang dalam pengaruh ekstasi”
“Ayam sayurlah, pake bawa ekstasi”
“Tuan Bumi yang tidak realistis, aku coba jabarkan bagaimana harapanmu itu seperti bercita-cita menelan bom lalu berenang ke bulan sambil menunggu kucing naik tingkat menjadi dewa lalu merestui perkawinan antara batu dan tumbuhan―”
“Ok, cukup nak,” Bumi seketika bangun, segera meremas kepala Anisa. Mereka tertawa lepas.
“Para filsuf Akaren sering mengungkapkan pertentangan antar idelah yang mengawal sejarah menuju harmoni bersama, Marx dulu bilang malah sebaliknya keadaan nyatalah yang mempengaruhi cara kita berpikir, penyesuaian di sana sini, kesempatan belajar ini itu, juga urusan bekerja,” Bumi mencoba membuka diskusi kembali.
“Pada keadaan pekerja inilah secara spesifik Marx menekankan sejarah berakhir karena selebihnya adalah dialektika materil,” lanjut Bumi
“Ingat awalnya kita hanya pekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri, survival. Ketika populasi memuncak manusia mulai menciptakan sistem ekonomi, kita ga lagi hanya untuk diri sendiri tapi berproduksi untuk saling bertukar memenuhi kebutuhan. Lalu saya percepat ke revolusi Industri bahkan manusia mampu meningkatkan efisiensi tertinggi yang tak pernah terbayangkan”
“Melalui mekanisme ini, mulai terlihat hanya individu-individu yang memiliki konsentrasi kapital yang memegang kendali. Mereka para operator mesin perusahaan ya kembali hanya bertahan karena hanya dengan begitu dia bisa menjalankan hidupnya”
“Ok, dari sini kayanya aku udah ngerti, Bum. Lalu para pemegang kapital hanya akan menggaji sekedar para operator itu bisa hidup, semua demi profit perusahaan. Just a little more than is necessary to survive
“Tadi asik banget di workshop, nis,” Bumi tiba-tiba seperti mengalihkan pembicaran.
“Kita mulai dikasi kesempatan untuk buat desain apapun dari kayu-kayu sisa produksi workshop. Membayangkan rancangan saya akhirnya akan jadi nyata itu seneng. Kita seperti anak-anak yang ga peduli apapun lagi kecuali mainannya”
“Tapi dari titik little more than necessary to survive para pekerja itu mulai kehilangan keterikatannya dengan pekerjaanya. Mereka terasing dengan eksitensinya sendiri, harusnya pekerjaan menghadirkan merekadalam peran di masyarakat, tapi mereka justru hilang. Seperti mati, Bum. Dan kamu beruntung bisa berkreasi, juga merasa eksistensimu dan menemukan relevansinya”
“Lalu jadi kaya yang kamu bilang tadi: orang kan harusnya berburu di pagi hari, memancing di siang hari, beternak selepas ashar, dan jadi kritikus film waktu makan malem? karena dengan bekerja dan bahagia itu kamu merasa penuh sebagai manusia”
“Seiring berjalannya waktu, kapital hanya akan bertumpuk di atas nampan yang sama, kelompok elit yang sama. Jarak kesejahteraan antara pekerja yang ribuan itu dan elit kapitalis semakin melebar. Lalu apa? Revolusi nis. Masyarakat akan merasakan March of History yang tak terelakkan, secara alami elemen-elemen tertindas akan bersatu dan mulai meruntuhkan satu per satu bangunan kapital. Masa akan mendikte bagaimana seharusnya tatanan sosial terbentuk. Apa Akaren akan begitu?”
“Eksistensi establisment Akaren bagiku seperti hadirnya masa awal transhumanisme, ditentang habis terus dimarahin para filsuf sedunia, lalu terjadi proses adaptasi karena perubahan itu pasti hanya orangnya yang berubah. Lalu hadirlah kita Bumi, aku dan semua transhuman lain di Akaren. Menikmati regenerasi sel, kecerdasan terkendali, dan daya adaptasi yang tak pernah ada dalam sejarah manusia”
“Poin kamu?”
“Ya, Akaren adalah bentuk penyelenggaraan pemerintahan terbaik sekarang sekalipun bertentangan yang berulang tahun hari ini, Marx yang begitu kamu gandrungi, Bum”
“Nis, saya bawa sepedamu ya, kalau mau kamu bisa bonceng berdiri,” jawab Bumi.
“Jah, ga jadi tuh mencoba rute baru terus?”

Standard