Filosofi, Kausa

​Memaknai kembali Idul Fitri

Hari raya umat islam, Idul Fitri, merupakan ‘monumen’ kemenangan yang senantiasa dipancangkan setiap tahun. Monumentasi ini berasal dari deretan ekspresi relijius umat islam sepanjang tahun, untuk kemudian intensitasnya menguat selama Ramadhan. Kita bisa memilih untuk mengisi monumen Idul Fitri sebagai kemegahan yang terbentuk dari akhlak-akhlak mulia atau menyusunnya dengan perilaku yang belum menunjukkan keislaman seseorang, tentu saja tidak semua hal bisa tegas hitam putih, tetapi kita pula bisa menentukan kecenderungan kebaikan sebagai pola yang dominan pada Idul Fitri.

Pola kebaikan dapat terbentuk dari bermacam aksi dan gagasan berbasis keislaman. Setiap kita akan berusaha menafsirkan prinsip-prinsip berislam melalui praktik keseharian dan keyakinan terhadap narasi relijius tertentu. Akan muncul ‘persaingan’ dari setiap penafsiran tersebut, lalu setiap kita mungkin bisa memahami hal tersebut secara berbeda sekalipun berangkat dari niat berkebaikan yang sama. Lalu bagaimana kita memaknai perbedaan tersebut? bagaimana seharusnya kira menyikapi nilai-nilai keislaman yang muncul di permukaan secara berbeda?
Kita mungkin tergoda pada ‘kharisma’ aktor tertentu lalu memutuskan berdiri di belakangnya atau kita memilih mengikuti barisan yang paling banyak orang memenuhi. Keduanya tidak ada yang salah, pun demikian dengan keputusan kita untuk akhirnya berjalan sendirian dengan narasi yang dibangun sendiri melalui teks-teks suci Islam, ajaran-ajaran Imam bijak terdahulu, dan telaah terdapat konteks sosial dan perkembangan zaman.
Kekhawatiran tentang perbedaan tersebut adalah hal lumrah, mengingat kita mungkin tumbuh dan besar melalui komunitas yang begitu lekat satu sama lain. Kehidupan yang nyaris satu frekuensi hampir pada semua aspek, lalu kemudian dihadapkan pada realitas kemajemukan berkelindan dengan konvergensi teknologi yang semakin memudahkan kita ‘bertemu’ secara virtual dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Tantangan berupa perkembangan dan perbedaan tersebut bisa juga dimaknai sebagai peluang. Peluang untuk kembali mengambil langkah mundur atau setidaknya menepi untuk merefleksikan kembali langkah yang sudah dilalui. Kita berkesempatan untuk belajar kembali pada ‘universitas kehidupan’. 
Hanya melalui refleksi kembali terhadap ekspresi keislaman kita, Idul Fitri kali ini menjadi tidak sekedar mengulang ‘event tahunan’ umat Islam. Tapi, semakin kaya dengan peningkatan pemahaman bahwa perbedaan itu nyata, kita bisa sejenak tenang untuk kemudian mengambil sikap yang berasal dari kebijaksanaan. Idul fitri pada dasarnya adalah kembalinya kita sebagai pribadi yang fitri, kesucian pribadi bagi umat Islam tentunya terbentuk dari akhlak mulia. Monumen kesucian dari sepanjang tahun, lalu dilanjutkan dengan ‘level up’ secara intensif selama ramadhan, secara alamiah menggembleng pribadi umat islam untuk terus memantaskan diri untuk surga kelak sebagai pengunjung kemuliaan dari setiap detil kemuliaan yang terus kita usahakan dalam hidup.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s