Kausa

International Development: Sebuah Pencarian

oneworld_universal

Istilah ‘international development’ pertama kali saya kenal sedikit lebih mendalam sebagai term dalam satu course konsentrasi kuliah Hukum HAM Internasional di FH UGM. Saat itu kami mempelajari hanya sebagai bagian instrumentasi hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, memasuki wacana international development sebagai perwujudan penting implementasi hak-hak tersebut. Nah, belakangan saya mencoba lebih memahami apa sebetulnya yang mereka bahas ketika menjajal international development, terkait dengan rencana studi lanjut M.Phil atau M.Sc International Development, pun demikian dengan MLaw&Dev dengan sebagagian besar coursework berlatar international development, atau yang terakhir dan memang prioritas karena linier dengan studi S1 dulu yaitu LL.M. dengan fokus isu Poverty, Human Rights and Development.

Sebelum lebih lanjut dengan pembahasan tentang international development, saya pengen coba ulas dulu kenapa international development? Secara pragmatis hal ini memang selaras dengan konsentrasi saya waktu kuliah, yaitu Hukum Internasional yang secara khusus fokus pada hukum HAM internasional. Tapi, sepanjang mempelajari Hukum HAM Internasional saya semakin menyadari bahwa ‘international scene’ itu sebenarnya sangat dekat. Kok bisa? Bisa banget. Yang saya maksud dengan international scene tidak lain adalah berbagai kondisi yang terkait langsung dengan isu-isu internasional yang terus menjadi problem-problem kunci dalam berbagai diskursus internasional. Apa saja? kemiskinan, persoalan kesetaraan, isu lingkungan, dan berbagai pemenuhan HAM lainnya.

Begitu dekatnya isu-isu tersebut karena memang itulah yang sehari-hari menjadi permasalahan di negara-negara developing, salah satunya Indonesia. Saya semakin menyadari bahwa pemajuan HAM yang seringkali secara ‘ringan’ menjadi bagian diskusi dan berbagai tulisan di atas kertas sebetulnya jauh lebih beringas di lapangan. Begitu nahasnya orang-orang yang tercerabut dari hak-hak yang paling mendasar yang memang menjadi tanggungjawab negara untuk memenuhinya. Bayangkan nasib 300-an orang yang tidak menentu selama lebih dari 5 tahun terusir dari tanah kelahiran dan penghidupannya lantaran berbeda keyakinan dengan warga kebanyakan di daerahnya. Saya masih bergetar mengingat semua studi kasus konflik sektarian di Indonesia, betapa sesama manusia pun kita bisa begitu bengis membakar rumah warga, mengusir penduduk dari rumah-rumahnya, bahkan membunuh sampai usus korban terburai. Jauh dari kenyamanan ruang diskusi saya di FH UGM, international development adalah narasi yang sangat nyata dan tak kenal rasa di Indonesia. Saya ingin lebih mendalami dan bisa lebih memberi pengaruh pada international development di Indonesia setidaknya dari ranah saya, yaitu hukum secara khusus hukum HAM internasional.

Ada tiga kata kunci penting untuk memulai wacana international development, yaitu tackling inequality (menangani ketidaksetaraan), alleviating poverty (menanggulangi kemiskinan), dan creating a sustainable environment (mewujudkan lingkungan yang lestari). Secara umum salah satu universitas ternama, menggariskan studi international development sebagai  a rigorous and critical introduction to development as a process of managed and unmanaged change in societies in the global South; intellectual history of development, the paradigm shifts and internal conflicts within the discipline and the contemporary relevance of research to development policy and practice. Jadi, studi international development ini warna-warni secara akademik, siapapun yang menekuni bidang ini haruslah mampu membaca, menafsir, dan mempraktikan solusi berbagai isu-isu international development dengan menggunakan berbagai disiplin dan perspektif.

Kata kunci pertama (1) tackling inequality, yaitu istilah yang merujuk pada spektrum luas isu-isu kesetaraan. Apa saja? menghormati keberagaman, mengutamakan solidaritas dan menjunjung tinggi martabat manusia. Orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang yang ingin menghapuskan diskriminasi dan intoleransi atas dasar agama, suku, suku, warna kulit, jenis kelamin, dan status sosial lainnya, serta meningkatkan solidaritas dengan yang lemah dan menjadi korban. Dilaporkan bahwa selain Indonesia memiliki tingkat ketimpangan yang terburuk keenam di dunia, kekayaan empat orang terkaya di Indonesia adalah sama dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Selanjutnya, besarnya pendapatan tahunan dari kekayaan orang terkaya di Indonesia -cukup untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di Indonesia.

Kedua yaitu (2) alleviating poverty. Beberapa fokus antara lain: menyempurnakan program perlindungan sosial, peningkatan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan yang inklusif. Penanggulangan kemiskinan tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah semata, akan tetapi juga harus melibatkan stakeholders kepentingan strategis seperti pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, termasuk masyarakat miskin. Para pemangku kepentingan tersebut memainkan peran-peran strategis dalam penanggulangan kemiskinan, namun selama ini belum terintegrasi dalam suatu kerjasama yang efektif baik dalam penyusunan kebijakan, pelaksanaan program, maupun kerjasama pelaksanaan program.

Kemudian yang ketiga (3) yaitu creating a sustainable environment. Isu lingkungan menjadi ‘primadona’ ketika beberapa negara influential berkumpul dan menyepakati poin-poin krusial mengenai kesadaran lingkungan yang sebelumnya sangat antroposentris menjadi lebih berkepedulian lingkungan, yaitu pada Rio Conference ’92 atau lebih dikenal sebagai Earth Summit. Indonesia sebagai salah satu negara paru-paru dunia justru terus-menerus mengalami ‘kecolongan’ dalam mengelola lingkungan hidup. Berbagai persoalan kehutanan dan lingkungan hidup masih terus menjadi ‘pekerjaan rumah’ besar bagi Indonesia.

All in all, international development adalah pelangi yang tidak begitu cantik karena dari dalamnya justru kita lebih menyadari bahwa persoalan yang secara istilah tertulis ‘internasional’ justru adalah permasalahan-permasalahan yang sangat dekat. Pilihan saya untuk terus lebih mendalami dan mungkin di suatu saat nanti memegang peran strategis untuk ambil bagian dalam international development merupakan skenario berat, tapi bismillah inilah jalan yang secara personal saya rasakan sangat dekat dan secara intelektual sangat menantang.

image source: https://icelebratediversityblog.com/2013/01/11/free-one-world-poster-the-universal-declaration-of-human-rights/

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s